Feeds:
Posts
Comments

Internet Protocol

Internet Protocol (IP) adalah protokol komunikasi data di jaringan komputer atau jaringan berbasis packet-switched. Protokol IP sering disebut sebagai Transmission Control Protocol/Internet Protocol (TCP/IP) mengacu kepada dua protokol yang pertama kali digunakan di dalam komunikasi data berbasis IP.

Komputer Thin Client

Teknologi komputer mengalami evolusi mulai dari teknologi mainframe, mini computer, workstation, personal computer (PC), sampai dengan networked PC. Di dalam dunia bisnis, berbagai macam aplikasi dijalankan oleh perangkat multi-pengguna yang melibatkan perangkat mainframe. Untuk mengakses aplikasi digunakan perangkat dumb terminal dengan antarmuka pengguna yang berbasis teks.

Teknologi komputasi menjadi berubah drastis khususnya di bidang industri ketika PC mulai dikenal secara luas. Berbagai macam aplikasi dijalankan secara lokal di dalam PC tanpa perlu mentransfer keluaran ke perangkat lain. Kemudian dikenal teknologi Graphic User Interface (GUI) yang menyediakan kemudahan bagi pengguna untuk mengakses berbagai macam aplikasi.

Perkembangan selanjutnya muncul sistem komputasi terdistribusi yang melibatkan perangkat-perangkat PC yang murah. Namun demikian, realisasi dari sistem ini menimbulkan pembengkakan dalam hal biaya manajemen dan pemeliharaan sistem. Aplikasi terdistribusi berbasis PC terbukti sangat kompleks dan perangkat lunak harus diinstal di setiap perangkat komputer yang akan meningkatkan Total Cost of Ownership (TCO) yang mencakup biaya yang berhubungan dengan teknologi informasi serta biaya-biaya manajemen dan pemeliharaan.

Sistem komputasi berbasis thin client merupakan evolusi selanjutnya. Sistem berbasis thin client mempertahankan teknologi GUI namun dengan TCO yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan sistem berbasis PC. Sistem komputasi berbasis thin client menggunakan arsitektur client/server sebagaimana akan dijelaskan lebih lanjut.

Arsitektur berbasis client/server (C/S) merupakan arsitektur yang paling umum di dalam sistem komputasi terdistribusi (distributed computing system, DCS). Suatu sistem terdistribusi adalah sekumpulan mesin-mesin komputer yang terdistribusi secara transparan sehingga pengguna seolah-olah menghadapi sebuah mesin komputer lokal. Hal ini berbeda dengan sistem jaringan komputer yang mana pengguna sadar bahwa ada beberapa atau banyak komputer yang dapat diakses. Di dalam sistem jaringan komputer, baik lokasi komputer, sistem replikasi data, load balancing, maupun fungsional sistem tidak transparan.

Referensi:

  1. Stock, M., (2001) : Technologies for Thin Client Architectures, Master Thesis, University of Zurich.

Teknologi open source hardware atau open hardware pertama kali diperkenalkan oleh David Rowe melalui proyeknya Free Telephony Project di blognya. Seperti halnya open source software, open hardware adalah rancangan perangkat keras yang dibuka untuk publik. Siapa pun dapat menggunakan, mereproduksi, dan memasarkannya.

Yang menarik dari konsep open hardware ini adalah semangat agar teknologi (misalnya IP Telephony) dapat dinikmati oleh masyarakat luas khususnya untuk negara-negara yang sedang berkembang. Dengan open hardware, industri lokal dapat mengembangkan produk dengan biaya R&D yang murah dan memasarkannya untuk memenuhi kebutuhan lokal juga dengan harga yang relatif terjangkau.

Dikatakan bahwa dengan open hardware dan open software tidak serta merta setiap individu atau organisasi dapat terjun ke dalam bisnisnya. Di dalam bisnis tidak hanya sebatas membuat produk jadi, namun jauh lebih kompleks karena masalah dukungan produk, permodalan, manufaktur, pelayanan pelanggan, serta relasi dengan pelanggan.

Meski telah tersedia semuanya, tetap dibutuhkan pengetahuan dan keahlian yang baik mengenai sistem yang dimaksud. Misalnya memiliki keahlian untuk troubleshooting, mengerti mengenai disain sistem, pengalaman dalam mengkompilasi firmware, pengujian sistem serta dukungan dan pemeliharaan. Dan perlu diingat bahwa dari keseluruhan produk perangkat keras, 95% di antaranya adalah perangkat lunak.

Beberapa tautan:

  1. http://www.rowetel.com/blog/?p=75
  2. http://www.rowetel.com/blog/?p=14

Statistical Multiplexing atau Stat-Mux adalah suatu metoda menggunakan secara bersama-sama suatu link komunikasi. Di dalam Stat-Mux, sebuah kanal komunikasi dibagi ke dalam sejumlah kanal dengan laju bit yang variatif atau sejumlah aliran data (data stream). Pembagian link diadaptasikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing aliran data. Stat-Mux menjadi alternatif dari metoda fixed sharing seperti di dalam time division multiplexing (TDM) atau frequency division multiplexing (FDM). Stat-Mux dapat memperbaiki utilisasi jaringan yang disebut sebagai statistical multiplexing gain.

Stat-Mux banyak diaplikasikan di jaringan berbasis paket. Masing-masing aliran data dibagi ke dalam paket-paket yang selanjutnya akan dikirim secara asinkron menggunakan disiplin first-come first-serve (FCFS). Alternatif lain, paket-paket data dapat dikirimkan menggunakan disiplin penjadwalan tertentu atau alokasi sumber daya seperti Integrated Services (IntServ) atau Differentiated Services (DiffServ). Continue Reading »

Bagi Anda yang membutuhkan konversi antar format audio termasuk format PCM, GSM, ADPCM, LPC, WAV, G.729 dan Speex, silakan klik di sini atau di sini. Bagi Anda yang membutuhkan beberapa sampel audio dalam berbagai format termasukPCM, GSM, iLBC, LPC, G.723, G.729, ADPCM, WAV, dan Speex, silakan klik di sini. juga mengenai software transcoder yaitu GX::Transcoder dapat didownload di sini atau Audacity di sini.

Pengujian kualitas suara seperti Signal to Noise Ratio (SNR), Log Spectral Distance (LSD), Perceptual Evaluation of Speech Quality (PESQ), atau Perceptual Evaluation of Audio Quality (PEAQ), dengan mudah dapat dilakukan menggunakan program SPDemo dari Technion IIT.

Extended E-model adalah metoda prediksi kualitas VoIP yang didasarkan kepada metoda prediksi kualitas VoIP ITU-T G.107 E-model (Ding dan Goubran, 2003). Selain memperhitungkan faktor gangguan non-jaringan (Is), E-model hanya memperhitungkan faktor gangguan jaringan yang diakibatkan oleh waktu tunda (Id) dan laju paket hilang (Ie).

Penelitian yang dilakukan Ding dan Goubran (2003) menemukan bahwa kejadian jitter berkontribusi terhadap penurunan kualitas suara, selain peningkatan waktu tunda. Faktor gangguan akibat waktu tunda Id hanya memperhitungkan rentang waktu tunda satu arah (latensi), tetapi tidak memperhitungkan efek ketidakinteraktifan percakapan yang diakibatkan oleh jitter. Continue Reading »

E-model atau European Telecommunications Standards Institute (ETSI) Computation Model didefinisikan di dalam ETSI Technical Report ETR 250 (1996) dan kemudian direkomendasikan di dalam dokumen ITU-T G.107 (03/2005). E-model pada awalnya dikembangkan sebagai piranti untuk perencanaan jaringan, namun saat ini telah digunakan secara luas untuk memprediksikan kualitas suara secara non-intrusif di dalam aplikasi telepon Internet atau Voice over Internet Protocol (VoIP).

Seperti dijelaskan di dalam Sun (2004), prinsip E-model didasarkan kepada konsep yang dikembangkan oleh J. Allnatt pada tahun 1975 yaitu ”Psychological factors on the psychological scale are additive”. Konsep ini digunakan untuk mendeskripsikan efek-efek dari berbagai gangguan (impairment) yang terjadi secara simultan di dalam suatu sambungan komunikasi. Continue Reading »

Kolisi Jaringan

Salah satu aspek penting di dalam telepon Internet adalah interaktivitas percakapan antar pengguna yang sangat dipengaruhi oleh kejadian waktu tunda di sepanjang jalur pengiriman paket data. Proses komunikasi yang pada umumnya adalah full duplex, di mana pengguna dapat berbicara secara bersamaan tanpa harus menunggu pengguna lain selesai berbicara, sangat memungkinkan terjadinya kolisi jaringan (network collision). Kejadian ini dapat menyebabkan munculnya waktu tunda dan bahkan hilang paket yang akan mempengaruhi interaktivitas percakapan. Untuk mencapai tingkat interaktivitas yang dapat diterima oleh pengguna, waktu tunda total perlu dijaga supaya kurang dari 400 ms. Continue Reading »

Untuk memberikan penilaian kualitas suara telepon Internet diperlukan pengukuran kuantitatif yang mencerminkan persepsi pengguna akan kualitas layanan. Secara umum, teknik pengukuran kualitas suara mencakup dua hal sebagai berikut:
1. Pengukuran subyektif yaitu teknik pengukuran yang didasarkan kepada opini pendengar secara langsung. Contohnya adalah teknik pengukuran yang sangat populer di sistem komunikasi suara MOS.
2. Pengukuran obyektif yaitu teknik pengukuran yang didasarkan kepada pengukuran sinyal suara. Sun (2004) menjelaskan dua tipe pengukuran obyektif yaitu pengukuran intrusif (misalnya PESQ) dan pengukuran non-intrusif (misalnya E-model dan Extended E-model).

Referensi

  1. Sun, L., (2004) : Speech Quality Prediction for Voice over Internet Protocol Networks, Disertasi Program Doktor, University of Plymouth.

Hubungan antara kualitas layanan intrinsik dan kualitas layanan yang dirasakan di dalam aplikasi Telepon Internet, ditentukan oleh karakteristik implementasi sistem aplikasi Telepon Internet sebagai berikut:
1. Skema kompresi, yang menentukan bagaimana sinyal suara didigitalisasi untuk keperluan pengiriman paket data
2. Skema paketisasi, yang menentukan panjang payload suara di dalam setiap paketnya
3. Ukuran jitter buffer, yang menentukan ukuran penyimpanan sementara untuk mengatasi munculnya jitter

Older Posts »